//
01
Tuhan Tidak Cukup Kuat Dibanding Ini
Tuhan, sebuah label yang mungkin dikenal sebagai sosok atau entitas yang sangat luar biasa diatas segalanya dan tidak ada satupun tandingannya. Benar begitu ?
Saya tidak begitu menyetujuinya jika kita memeriksa kerangka yang lebih relevan.
Tuhan
Kita terutama di Indonesia, sangat lekat dengan nama, istilah, label, jabatan, entitas atau apapun itu anda menyebutnya itu sebagai Tuhan. Karena memang bahkan dasar negara ini juga dibangun diatas kerangka yang dalam kasus ini bisa saya sebut "rapuh" itu.
Bisa anda verifikasi bahwa sila pertama dalam Pancasila adalah berkaitan dengan Ketuhanan yaknni "Ketuhanan yang maha esa" yang jika diartikan secara harfiah adalah "Label yang paling teramat sangat tunggal". Yang jika melihat pasal-pasal dalam ayat itu akan sangat panjang dan saya enggan membahasnya dalam tulisan ini.
Kenapa kita bisa sebegitu lekat dengan istilah "Tuhan" ?
Karena bahkan sebelum kita lahir, sebelum bangsa ini terbentuk, masyarakat penghuni daratan ini sudah mengggunakan istilah itu mungkin dengan nada dan nuansa yang berbeda, tapi mengarah pada penalaran yang sama. Yakni kepercayaan akan sebuah entitas luar biasa. Yang faktanya ternyata bukan cuma daratan Nusantara ini dan beberapa negara lain, hal tersebut sepertinya berlaku secara global sudah sangat lama sekali bahkan mungkin sejak awal peradaban manusia terbentuk.
Konsepsi
Pertanyaannya, apakah jika suatu gagasan berlaku dan diterima secara global menjadikan itu adalah kebenaran mutlak ?
Sebagian orang ada yang beranggapan demikian, sebagian lain masih mempertanyakan, sebagian meragukan, sebagian lagi tidak peduli, dan masih ada bagian-bagian lain yang mungkin tidak perlu saya sebutkan.
Yang dalam konteks ini, saya mungkin bagian yang meragukan sekaligus mempertanyakan, bahkan menolak.
Berbeda dengan gagasan fisika yang bisa di verifikasi pun masih butuh kajian yang terus berkembang, dia memang bisa diterima secara global dan bahkan dijadikan acuan untuk urusan-urusan yang nyata, namun soal Tuhan, itu konteks yang sangat berbeda.
Dan kenapa saya menyetarakan Tuhan dengan teori Fisika ? Karena pada akhirnya, dalam konteks ini saya akan mengajak anda untuk melihat Tuhan adalah bagian dari sebuah konsepsi bentukan manusia.
Karena pada dasarnya, kita tidak pernah bisa mengkonfirmasi apakah hewan lain mengakui keberadaan Tuhan atau tidak terlepas dari klaim yang manusia ciptakan.
Paradox
Dengan kita melihat Tuhan adalah bagian dari konsepsi, ide, gagasan dan narasi, kita bisa dengan lebih leluasa membedah kerangka berpikirnya, mengadunya atau sekedar mempertanyakannya.
Misalnya, dalam tahap ini, ketika kita sudah menetapkan bahwa Tuhan adalah bagian dari narasi manusia, bisa dengan mudah kita benturkan dengan paradox ketuhanan yang juga dibuat manusia.
Dengan kata lain, Tuhan tidak bisa menjadi sekuat itu.
Tapi memang, Tuhan nyatanya tidak sekuat itu bahkan kalau kita sedikit bergerak kearah yang sedikit lebih terbuka tanpa harus berpikir rumit.
Misalnya, Jika kita lihat dengan mata terbuka, nyatanya kita hanya bisa menemukan Tuhan di dalam Agama. Dan ruang hidupnya memang sebatas itu.
Hanya naskah-naskah Agama yang menyebut entitas dan mengakui keberadaannya, diluar itu tidak.
Masalahnya balik lagi, kita sudah terlalu lekat dengan agama itu sendiri, sehingga dunia ini seolah bagian dari agama juga, padahal itu dimensi yang jauh berbeda.
Absolutisme terbuka
Nah setelah kita melihat bahwa Tuhan adalah bagian dari konsepsi, maka kita juga bisa melihat konsep-konsep lain yang juga ada dan banyak. Dan dari sekian banyak konsep yang dikenal dan diakui manusia di bumi ini, ada satu konsep yang sampai saat ini bisa disebut paling perkasa dan tidak terbantahkan, dikemas dengan keterbukaan absolut dan sekaligus tertutup dari sangkalan, yang bahkan ketiadaannya adalah bagian dari keadaannya.
Dan itu adalah Takdir.
Sudah menyadarinya selama ini bagaimana konsepsi ini sangat luar biasa tidak bisa terkalahkan oleh siapapun ? Berisi penuh paradox dan hanya berdiri pada satu titik yang sama ? Awal adalah akhir dan itu satu hal yang terjadi bersamaan ?
Coba pikirkan, bagaimana sebuah konsep yang sangat luar biasa ini tidak bisa digoyang dengan cara apapun. Misalnya, saya bilang semua yang terjadi di dunia dan bahkan semesta ini adalah takdir. Bisa anda menyangkalnya ?
Oke anda akan sangkal dengan semua dalil yang bisa anda ajukan, dan penyangkalan anda adalah bentuk dari takdir. Apa yang anda lakukan adalah takdir, atau sudah ditakdirkan bahkan ketika anda menolak takdir itu sendiri.
Jika Tuhan bisa digugurkan dengan paradox batu besar, silahkan anda coba kalahkan konsepsi takdir ini dengan apapun yang bisa anda sajikan. Semua akan kembali kepada bagian dari takdir itu sendiri.
Bahkan jika takdir itu tidak pernah ada, itu adalah takdir itu sendiri.
Klarifikasi
Disini saya bukan sedang mengajak anda untuk percaya takdir atau menolak takdir, karena dalam kerangka ini kita melihatnya sebagai konsepsi yang dibuat oleh manusia, yang bahkan Takdir baru muncul sebagai kuasa Tuhan, yang dalam hirarki ketuhanan, Takdir tidak lebih tinggi dari Tuhan si pencipta sekaligus pengendali dan pemilik takdir itu sendiri.
Karena ini adalah sebuah konsep, ide, gagasan, maka yang perlu kita sikapi adalah bahwa kita tau atau tidak, bukan soal percaya dan tidaknya. Karena biar gimanapun juga, percaya dan tidak percaya anda terhadap takdir, itu adalah bagian dari takdir. hehe becanda.
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan