//
01
Hidup Ini Adalah Pengulangan Identik
Hidup kita memang hanya sekali, hanya saja terjadi ribuan kali.
Pernah terpikir bahwa hidup yang kita jalani adalah apa yang sudah terjadi, digariskan dan kita hanya menjalani tanpa pernah punya kebebasan untuk menentukan arah hidup kita ?
Dan apa yang kita tentukan ternyata hanya sebuah ketentuan yang bahkan sudah ribuan kali terjadi sebelumnya dan akan terus terjadi ribuan kali setelahnya ?
Dan formulasi takdir, kita akrab dengan itu bahwa kehidupan sudah digariskan untuk masing-masing dari kita, dan apa yang kita pikir adalah kedendak juga bagian dari ketentuan itu, benar ?
Tapi ini lebih mengerikan dari itu.
Jika merujuk ke konspsi Takdir, itu hanya membahas satu garis waktu kehidupan di bumi (Dunia) dan akan melanjutkan hidup dengan penebusan atau mempertanggungjawabkan perbuatan selama di dunia yang hanya menjalani sebuah ketentuan itu di akhirat, sebuah bentuk dunia lain yang dalam abstraksi manusia hanyalah bentuk lain dari dunia yang selama ini kita kenal.
Yang jika diikuti, maka konsepsi Takdir menjadi tidak relvan, bagaimana kita perlu mempertanggungjawabkan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lakukan dengan kehendak kita ?
Yang pada akhirnya penyangkalan itu pun hanyalah bagian kecil dari konsepsi takdir itu sendiri. Ampun.
Kembali ke gagasan awal dan kenapa ini sangat mengerikan.
Pengulangan
Pernah kepikiran tidak bagaimana kita bisa menyikapi bahwa besok pagi kita akan menjalankan rencana yang sudah kita renungkan dan catat tadi malam ? Apa yang membuat kita yakin bahwa besok pagi akan datang ?
Karena itu sudah terjadi kemarin, kemarinnya lagi dan bahkan beberapa tahun kemarin dan besok juga akan terjadi, bahkan sampai kita mati pun akan terjadi, dan kita hanya menjalani beberapa kali pagi dalam hidup kita dan itu memang selalu terjadi tanpa pernah ada masalah seperti hari ini tidak ada pagi dan besok ada lagi, atau sempat menemui awal hari yang berbeda. Tidak pernah, semuanya selalu sama setiap hari, pagi - siang - sore - malam - dan kembali pagi seperti biasanya. Bukankah itu hanyalah bentuk pengulangan dari apa yang sebelumnya juga pengulangan dari sebelumnya ?
Yang jika anda hidup selama 60 tahun dan setahun ada 365 pagi, maka selama itu anda menemui sebanyak 21.900 kali pagi yang selalu sama. Begitu juga dengan waktu-waktu lain, yang selalu berulang setiap harinya. Mungkin karena sudah selalu begitu, maka kita bisa dengan yakin bahwa besok juga akan sama saja.
Titik Buta
Dalam satu jam kita sepakati ada 60 menit betul ? Tapi pernahkah anda melihat angka itu dalam penunjuk waktu ? Seperti misalnya 23.60 ? Tidak, yang ada adalah 00.00 dimana itu adalah akhir dari hari kemarin dan awal dari hari ini, satu titik temu yang sama, dalam satu titik mati dalam pengulangan.
Jika waktu yang kita kenali tidak pernah menunjukkan adanya titik awal dan akhir, bagaimana kita membuat kesimpulan bahwa waktu berjalan linear ? Terus maju ke depan dengan garis waktu yang punya awal dan akhir ?
Bahkan dalam lomba lari, lintasan balap, dimana garis start dan Finish adalah satu titik yang sama, bagaimana kita beranggapan bahwa ada awal kemarin dan akhir mendatang ?
Iya, itu memang cara bernalar yang paling sederhana, bahwa awal dan akhir akan berjalan lurus dan terputus. Yang padahal dalam skema waktu yang kita kenali selama ini, terus bergerak ke titik awal, titik 0. Dan masih sama dengan poin sebelumnya, terus berulang dan berulang tanpa akhir.
Lingkaran Waktu
Dalam kerangka keseharian, memang paling mudah dengan berpikir bahwa waktu bergerak linear, dari sana kita bisa membuat perencanaan, perhitungan awal dan akhir dan durasi yang kita butuhkan dalam menjalankan rencana.
Tapi pernahkah sejenak terpikir bahwa masa lalu, masa sekarang, dan masa depan sedang terjadi secara bersamaan ?
Soal waktu, waktu hanya berjalan ketika diamati dan berjalan sesuai dengan persepsi pengamatnya. Apa hubungannya ?
Saat kita mengikuti atau sekedar menonton acara perayaan tahun baru, di siaran langsung TV Indonesia biasanya akan setidaknya mengucapkan selamat tahun baru sebanyak 3 kali dalam 2 jam.
Selamat tahun baru untuk saudara kita yang di Papua dan Sulawesi !
Selamat tahun baru untuk wilayah Bali dan Kalimantan !
Dan selamat tahun baru untuk waktu bagian barat.
Bisa dipahami ?
Bagaimana ucapan tahun baru yang seharusnya terjadi hanya sekali dalam setahun diucapkan sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 2 jam dari pukul 22.00 hingga 00.00 WIB ?
Karena 22.00 WIB adalah 00.00 di WIT yang bagi persepsi WIB, itu masih sejauh 2 jam di masa depan, yang padahal itu sedang berlangsung di WIT.
Posisikan diri anda di WIT (Waktu Indonesia Timur), Ucapan selamat tahun baru di TV adalah ucapan dari pukul 22.00, bukan waktu yang sama dengan yang anda alami sekarang. Itu 2 jam di masa lalu.
Dan lebih panjang lagi dengan perbedaan waktu Indonesia dan US dimana perbedaannya adalah 12 jam, bahwa Indonesia berada 12 jam di masa depan US, sementara kehidupan sedang berjalan keduanya.
"Alah itu kan cuma beda zona waktu yang disepakati dan itu tidak harus sesuai garis lintang". Betul.
Tapi, tidak lucu ketika kita memaksakan persepsi waktu kita yang 12 jam lebih awal dengan menyebut Tengah malam di US adalah siang bolong. Karena memang mereka tidak mengalami apa yang sedang kita alami dengan terik yang sama. Disana gelap.
Gambaran sederhana dari sebuah posisi anda duduk mengendarai sepeda motor, Anda duduk melihat kedepan sekaligus bisa melihat masa lalu di spion dan anda masih duduk di atas motor yang sedang melaju di posisi anda. Itu juga gambaran sederhana bagaimana waktu yang sudah berlalu, saat ini dan masa mendatang sedang sama-sama terjadi.
Lalu, dimana letak awal dan akhirnya ?
Bahkan jika anda harus pergi mengunjungi sebuah lokasi yang bisa jauh maupun dekat dimulai dari rumah, mungkin dengan tegas akan menyebut bahwa rumah adalah posisi awal dan lokasi tujuan adalah titik akhir. Benar ?
Tapi jangan lupa, bahwa anda juga akan kembali ke titik awal anda memulai, rumah untuk pulang.
Pada akhirnya anda akan kembali titik semula setelah mencapai tujuan anda. Dan itu terjadi untuk lebih banyak hal yang bisa kita bayangkan, bagaimana semua terus menuju ke titik awal pada akhirnya, bertemu pada satu titik yang sama dan terus berulang.
Jika gambaran-gambaran kecil ini tidak mempengaruhi anda, kita bisa buat gambaran lebih besar diluar dari apa yang bisa kita lihat setiap hari.
Kiamat
Saya pernah membahas perihal ini pada tulisan yang bisa anda baca secara penuh disini, dan kembali ke topik ini, atau saya buat sedikit rangkuman kecil.
Dalam konteks keagamaan, kiamat adalah titik akhir dari kehidupan yang selama ini kita kenal, dunia ini hancur dan tidak menyisakan ruang kehidupan sama sekali. Kemudian seluruh kehidupan akan dialihkan ke dunia baru yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan selain dari anggapan-anggapan yang menurut kita masih masuk akal.
Dalam konteks itu saja, kita bisa mengamini bahwa Kiamat adalah akhir dari kehidupan yang kita kenal, dan sekaligus awal dari kehidupan baru yang tidak kita kenal itu yang biasa disebut Akhirat. Yang twist nya adalah bahwa dalam narasi keagamaan juga, kita pada dasarnya berangkat dari sana, dan kembali ke sana.
Jika kita lepas kacamata agama dan merujuk pada literasi kata Kiamat itu sendiri, yang berarti Kebangkitan, bisa kita amini dalam konteks kehidupan dunia bahwa akhir dari suatu peradaban adalah awal dari peradaban baru. Dan kita sudah melihat banyak sekali contohnya di bumi ini.
Bagaimana sebuah peradaban berakhir dengan sangat mengerikan, melahirkan peradaban baru dan terus berulang. Bukan peradabannya, tapi fenomenanya.
Dan jika selama ini kita mengenal istilah BigBang untuk menunjuk pada awal kehidupan semesta ini dimulai, dan sudah ada kajian ilmiah yang punya bukti sisa-sisa ledakan kosmiknya, kemudian pertanyaannya adalah, jika BigBang adalah awal dari kehidupan semesta saat ini, maka dia bentuk akhir dari apa ?
Selama ini pertanyaan yang sering saya dengar soal BigBang adalah, jika BigBang adalah awal semesta, lalu ada apa sebelum BigBang ?
Berkaca pada Peradaban baru muncul dari berakhirnya peradaban lama, maka kita bisa menyebut bahwa BigBang yang merupkan awal semesta, maka ia juga akhir dari semesta.
Nah kemudian pertanyaan lain muncul, jika BigBang adalah akhir dari semesta, lalu semesta yang seperti apa ? Dan dengan ini saya jawab, semesta seperti ini. Sama persis dan itu hanyalah bentuk dari pengulangan.
Bagaimana bisa membuktikannya ? Sayangnya tidak ada data yang bisa dibuktikan selain dari sisa ledakan kosmiknya yang masih bisa ditemukan dan adanya kehidupan saat ini. Sama seperti Takdir dan Tuhan, apa buktinya ? Kenapa bisa dipercaya meskipun tidak ada bukti atau dengan entengnya menyebut bahwa "dunia ini adalah bukti keberadaan Tuhan".
Apakah ini konsep yang sama dengan Multiverse ?
Saya pikir tidak.
Multiverse adalah konsepsi dunia paralel dimana dunia itu berdiri secara paralel dan berisi begitu banyak kemungkinan yang sangat abstrak dan itu pun tidak akan pernah bisa dibuktikan. Dan menurut saya pribadi, itu bisa jadi pengandaian tanpa batas dan tidak masalah juga selama anda tidak sepenuhnya hidup di salah satu opsi yang menurut anda eksis padahal dalam realita anda tidak ada.
Dan jika Multiverse masih menyisakan ruang lebar untuk anda berandai-anda dengan sangat leluasa dan menghayalkan apa yang tidak masuk akal dengan menyebut "di kehidupan lain, diri saya menjadi saya yang berbeda sekali", dalam konsepsi Siklus ini tidak demikian.
Nyatanya, kita hanya mampu mengenali satu realitas yang bisa kita pahami, jalani dan alami dalam dimensi waktu yang kita amati. Kita hanya punya satu kesadaran, dan kita hanya bisa menerima itu.
Meskipun realitas pada dasarnya kembali menjadi subjektif bergantung perspektif, pada akhirnya kita hanyalah satu perspektif yang hanya memahami satu realitas itu. Dan dengan begitu, kita hanya perlu memahami bahwa realitas orang lain bisa jadi berbeda dengan yang kita alami atau pahami.
Dan oleh karena kita hanya berjalan dalam satu realitas, maka sebanyak apapun semesta dalam teori Multiverse, kita hanya bisa melihat satu diantara semua itu dan itu yang kita jalani saat ini, dan tidak akan lebih. Karena kelebihan realitas itu juga pada akhirnya hanya bagian dari realitas yang kita pahami itu.
Dan karena kita hanya bisa melihat satu realitas, maka otak kita hanya akan melihat realitas jika itu yang kita kenali sementara mengabaikan apapun selain itu.
Deja Vu
Saya pikir semua orang di dunia ini pernah mengalami kondisi atau sensasi atau fenomena Deja Vu yang bahkan sudah ada penelitian ilmiahnya yang dalam kasus ini saya tolak atau ragukan.
Karena pada akhirnya, belum lama ini saya mengetahui bahwa tidak semua orang pernah mengalaminya sehingga tidak semua orang bisa memahaminya. Dan masalahnya saya ketemu dengan salah satu diantaranya. Mungkin anda salah satunya ?
Dalam sebuah diskusi, saya menceritakan mengenai fenomena yang saya alami dan akrab disebut dengan nama Deja Vu atau "melihat kembali" dalam bahasa Perancis.
Dan saya tidak yakin anda akan paham dengan cara saya menggambarkannya. Bukan berarti bahwa orang yang tidak pernah mengalaminya tidak akan bisa paham, saya hanya ragu kita memiliki persepsi yang sama.
Dalam diskusi itu saya menjelaskan dengan detail seperti yang akan saya lakukan disini, bagaimana saya berada dalam situasi yang sangat-sangat spesifik dan itu kali pertama dalam hidup saya. Semua posisi orang di scene itu, apa yang mereka bicarakan dan apa yang saya pikirkan, itu sudah pernah terjadi sebelumnya. Setidaknya dalam otak saya begitu. Saya terhenyak mengamati situasi untuk melihat seluruh bentuk kejadian dan semua berjalan sangat identik dengan apa yang ada di dalam memori saya hingga kemudian saya terkesiap dan bilang "Ini sudah pernah terjadi !". Sampai semua orang di ruangan itu bingung mendengar ucapan saya. Dan itu saya alami di usia saya masih SD.
Dan sialnya, saya berkali-kali mengalami hal itu, bahkan baru-baru ini juga masih mengalami itu.
Dan bahkan ada Deja Vu yang menurut data di memori saya terjadi lebih dari sekali untuk scene yang sama.
Atau saya memasuki ruangan di 2018, dan saya terhenti sejenak beberapa detik dan toleh kanan kiri karena saya bingung itu dimana, kemudian di 2020 saya memasuki sebuah ruangan yang saya kenal sekali ruangan itu dan mendapati scene yang saya bingungkan di 2018. Karena ruangan itu baru ada di 2019.
Lalu apa hubungannya dengan semua poin diatas itu ?
Soal pengulangan, jika apa yang saya alami adalah apa yang pernah saya alami di siklus sebelumnya, dan kemudian saya alami di siklus kali ini, maka itu bisa jadi adalah bentuk pengulangan kehidupan yang identik. Dan kedepannya juga akan mengalami hal yang sama dan juga dan mengalami fenomena Deja Vu yang sama karena itu sangat berkesan. Di siklus kedepannya lagi pun akan terus sama.
Bagaimana dengan ide Waktu radial dimana semua sedang terjadi bersamaan ?
Coba anda pikirkan bagaimana saya mengalami apa yang seharusnya saya alami di tahun 2020, sementara saya masih di 2018 dan lokasi tersebut baru ada setahun kemudian ? Bagaimana saya bisa menerima penjelasan masuk dari peristiwa itu ? Dan apakah peristiwa tersebut pun bisa dipahami oleh orang lain termasuk anda ? Saya pikir anda bisa melihat gambarannya sesuai dengan persepsi waktu yang anda pahami, begitu juga dengan rekan diskusi saya kala itu, yang rupanya ia sama sekali belum pernah mengalami fenomena Deja Vu.
Sehingga tanggapannya adalah apa yang pernah ia baca dari hasil penelitian berbasis simulasi deja vu, karena saya pikir pengalaman subjektif tidak bisa dibuktikan dengan pendekatan ilmiah, jadi dalam kasus ini saya tolak metodologi yang digunakan untuk mengklasifikasikan fenomena Deja Vu tersebut.
Berbagi Memori
Terkait dengan waktu berjalan bersamaan dari semua dimensi waktu yang kita bisa pahami, seperti masa lalu sekarang dan masa mendatang, saya mengambil pendekatan bahwa Deja Vu adalah dimana kita berbagi informasi dengan diri kita dari waktu yang lain yang juga mengalami hal tersebut, karena kembali lagi, kita hanya menjalani hidup yang sama persis dengan rentang waktu berbeda.
Bagaimana mekanisme yang digunakan otak kita ?
Sederhananya begini, kita hanya bisa mengingat sesuatu yang pernah terjadi atau kita alami. Kita tidak bisa mengingat sesuatu yang tidak bisa kita pahami selain dari membayangkan, atau menggambarkan dalam benak.
Dan ketika kita mengingat suatu kejadian yang sangat kompleks, sementara kita baru kali pertama mengalaminya, kita tidak memiliki kemampuan untuk mencocokkan data dengan memori. Dan itu hanya bisa terjadi ketika kita pernah ada di situasi tersebut dan mengingatnya.
Bagaimana mekanisme ilmiahnya ? Saya tidak tau, dan secara ilmiah juga masih tidak tau selain hipotesis yang masih bisa diperdebatkan karena pada dasarnya untuk saat ini manusia sendiri belum sepenuhnya mengerti bagaimana cara kerja otak secara menyeluruh.
Meskipun manusia bisa menciptakan kecerdasan buatan (AI), itu hanya bagian dari kinerja otak, bukan otak dalam bentuk utuh.
AI
Saat ini sebagian dari kita sepertinya sudah sangat akrab dengan AI dan tidak perlu ada penjelasan yang rumit selain bahwa AI adalah kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia, menyerupai manusia dan kadang mengaku manusia.
Dan belakangan ini, beberapa tahun terakhir, AI berkembang dengan sangat cepat, mendekati cahaya ? Tidak, dia menggunakan kecepatan cahaya dalam distribusinya (serat optik).
Bagaimana kita bisa mengetik pertanyaan bodoh dalam obrolan bersama AI, dan sepersekian detik kemudian dia menjawab dengan sangat manusiawi dengan pemahaman konteks yang sangat relevan, dengan servernya berbasis di Amerika.
Perjalanan pesan kita, sampai kesana dan ditanggapi dengan hitungan detik, itu sangat cepat. Dan beberapa model jauh lebih cepat dari model yang lain.
Dan kita juga musti sepakat bahwa jaringan data, Internet itu disalurkan menggunakan cahaya melalui serat optik, sehingga kecepatan akses internet memang menggunakan kecepatan cahaya.
Dan, karena AI butuh jaringan dengan kecepatan super masif tersebut, proses pemahaman konteks yang juga sangat cepat dan bisa menjawab jutaan orang dalam waktu yang sama dengan konteks berbeda, dia butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu diambil darimana ? Bumi, planet yang kita tempati.
Dan suplay energi planet ini yang bisa diambil terbatas. Sehingga tidak heran ketika belakangan para pengembang Data Center dimana AI dibuat, mengaku kekurangan Energi karena setiap hari harus menggunakan pasokan energi yang sangat besar hanya untuk membuat AI ini tetap hidup dan melayani obrolan pelanggan, sebodoh apapun itu.
Tapi, karena pekembangan AI ini sangat pesat dan menjadikan orang takjub dan sebagian bahkan bergantung dengan keberadaannya, ini membawa dampak bahwa banyak orang yang akan membiayai AI ini untuk tetap hidup dengan memberikan sumber daya yang akan di konversi ke AI itu sendiri untuk membantu manusia membangun penelitian mencari sumber daya baru (Energi).
Dan masalahnya, itu berlangsung jauh lebih cepat dari apa yang bisa dihasilkan manusia manapun.
Jika sepanjang peradaban manusia menciptakan teknologi yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya pada satu penemuan hingga jadi peroduk berguna dan menghabiskan banyak sekali sumber daya yang diambil dari planet ini, AI mempersingkat penemuan-penemuan penting yang biasanya bertahun-tahun menjadi hanya dalam hitungan minggu, bahkan hari. Yang artinya, sumber daya yang diambil dari planet ini lebih cepat kering. Dan dampaknya apa ?
Sumber daya dari tempat baru.
Dan dalam gagasan saya, ini adalah salah satu bentuk akhir dari siklus, dan awal dari siklus baru.
Siklus
Jika sebelumnya saya masih berpikir bahwa kehancuran semesta masih akan terjadi bahkan ribuan tahun mendatang, dengan kondisi belakangan ini dimana manusia saja sudah sangat merusak bumi, dan sekarang ada manusia buatan yang ribuan kali lebih efisien dari manusia, apa yang bisa dirusaknya ? Jauh lebih banyak.
Ide pertambangan meteor sebenarnya sudah saya dengar sejak lama mengingat kandungan meteor yang sangat beragam berisi material-material berharga yang yang bisa dimanfaatkan.
Dan sedari dulu manusia terhambat oleh masalah biologis, yang pada akhirnya pertambangan itu belum terjadi sampai saat ini. Setidaknya tidak ada informasi valid versi publik dimana manusia sudah berhasil menambang sesuatu dari Meteor saat ini.
Dan dengan bantuan AI, ditenagai AI dan bahkan dilakukan oleh AI dalam ekstraksinya, itu sangat memungkinkan terjadi dalam waktu dekat. Ditambah lagi, saat ini mayorita uang mengarah ke pembiayaan AI, yang akan mempercepat bagaimana proses itu akan segera dimulai.
Dan jika itu terjadi, apakah kemudian butuh waktu lama untuk AI semakin menjadi tidak terbendung ? Tidak.
Dengan saat ini Energi masih menjadi masalah untuk kehidupan dan pertumbuhan AI, dengan AI bisa mengambil sumber daya untuk menopang kehidupannya, tidak ada lagi penghalang untuk dia berkembang jauh lebih pesat. Dan semakin ia berkembang, semakin banyak energi yang dibutuhkan.
Dampaknya, pertambangan makin masif dan terus menyebar ke seluruh penjuru semesta.
Iya ini masih belum terjadi saat ini, tapi bisa saja.
Dan semua energi akan terpusat pada aera-area tertentu yang digunakan sebagai server data, yang saya pikir Mars merupakan kandidat yang cukup bagus selain bumi.
Dan ini yang kemudian akan mengembalikan semuanya ke awal titik mula, ledakan BigBang sebagai awal siklus. Dan merupakan BigBang yang bekasnya masih ada sampai sekarang dan menjadi salah satu bukti teori BigBang.
Dan itu bukan waktu yang lama dalam skala kosmik. Ledakan itu baru terjadi sesaat lalu.
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan