Perlukah Kita Membaca Buku ?

// 01
Perlukah Kita Membaca Buku ?

Perlukah Membaca Buku ?

Di Indonesia sering sekali saya mendengar kalimat mengenai status bangsa Indonesia yang masuk ke tahap "Darurat Membaca" yang dalam konteks ini biasanya merujuk ke satu hal konkret berupa BUKU

Membaca dalam hal ini adalah membaca buku. Begitu kan ?
Ya setidaknya itu yang saya tangkap, karena biasanya disambung dengan kalimat-kalimat lain yang arahnya adalah merekomendasikan masyarakat untuk membaca buku mulai dari pendidikan tingkat paling dasar. Mengenalkan bacaan, memberitahu pentingnya membaca dan sebagainya. 
Yang dalam konteks ini saya melihat itu cukup menyempitkan esensi dari membaca itu sendiri.

Apakah kita perlu membaca Buku ?

Kita kenali dulu definisi membaca yang merupakan proses melihat, mengenali dan memahami informasi atau pesan yang disampaikan penulis melalui teks atau bahasa tulis. 

Dan definisi membaca sendiri juga bisa diartikan lebih luas lagi seperti membaca pertanda yang tidak tertulis, membaca situasi, yang semuanya mengarah pada proses individu dalam memahami sebuah informasi. Bukan hanya dari satu sumber bernama Buku. 

Dan ini yang menurut saya musti ditanamkan ke masyarakat bahwa tidak harus buku yang menjadi media bacaan, yang bahkan selama ini kita kita sudah mengenal hal itu secara umum. 

Tapi yang jadi masalah adalah penekanan membaca disini lebih ke arah buku sebagai media yang digunakan. Hingga kemudian muncul banyak pertanyaan yang kurang lebihnya seperti "Buku apa yang harus saya baca ?", atau "Saya mau mulai membaca, mulai dari buku apa ya ?"

Karena sempitnya premis membaca disini, akhirnya mengerucutkan pola pikir ke satu hal yang sangat sempit yakni buku yang bagi sebagian orang, melihat satu buah buku dengan ketebalan 2cm saja sudah menjadi beban mental sejak pandangan pertama. Belum lagi persiapan ruang baca, nuansa membaca, lingkungan yang nyaman untuk membaca dan yang paling sering jadi masalah adalah waktu untuk membaca, dimana kita harus duduk berdiam tenang dalam spot sempit untuk terus fokus pada setiap susunan huruf yang cukup kecil halaman per halaman. Merepotkan.

Buku

Secara definitif, buku diartikan sebagai sekumpulan atau dalam hal ini kita sebut saja tumpukan lembaran kertas yang dijilid menjadi satu, berisi tulisan, gambar atau bahkan halaman kosong. 

Yang dalam konteks jaman sekarang, definisi buku juga sudah berkembang, seperti misalnya eBook yang merupakan buku versi elektronik dimana berisi lembaran yang disatukan dalam format pdf biasanya. 

Yang dalam definisi sebagai media bacaan, dia juga buku. Bahkan banyak penerbit yang kemudian juga memasarkan versi pdfnya supaya lebih sederhana dalam jalur distribusi dan memberikan keleluasaan juga bagi pembaca untuk membacanya kapanpun dimanapun dari tepfon genggam mereka. Yang sepertinya dalam hal ini, eBook masih kurang efektif ketimbang buku cetak konvensional.

Dan ya, saya pikir ini kemudian dijadikan sebagai sebuah point tantangan bagi para penerbit, pengembang atau bahkan penulis itu sendiri soal bagaimana membuat media yang tidak intimidatif dan mobile sehingga tulisan mereka bisa dibaca lebih banyak orang. Yang lagi-lagi dalam kasus ini sepertinya bukan itu masalah utamanya. 

Pembaca

Karena sejauh kita melihat sampai di masa digital seperti ini, peredaran buku masih juga banyak yang baru diterbitkan, masih banyak penulis yang menulis dan laku dipasaran, dan bahkan punya penggemar berat. Yang artinya, pembaca buku itu masih ada dan mungkin banyak. 

Dan karena penerbit buku dan penulis juga semakin banyak, audiens atau pembaca ini terbagi. Berbeda dengan jaman 20 tahun ke belakang misalnya dimana system penerbitan buku jauh lebih rumit dan selektif, sehingga tidak banyak pilihan buku yang bisa dinikmati pembaca yang memang tidak sebanyak itu juga lintas generasi. Ini dalam konteks pembaca dan sekaligus penikmat buku ya. 

Nah hari ini, bahkan buku lirik lagu yang terdengar pun dicetak dan dipasarkan, yang mungkin ada juga yang beli. Yang menunjukkan seolah segampang itu menerbitkan buku. 

Tapi karena diawal bahkan saya sudah bilang kalau buku adalah medium yang terlalu sempit dalam hal membaca dan ilmu pengetahuan, lalu, selain buku apa sebenarnya yang bisa dibaca dan berisi mungkin bahkan lebih banyak ilmu pengetahuan ?

Tapi mungkin sebelum masuk di point itu, kita musti tegakkan dulu syarat awal untuk memulai masuk ke arah sana, yakni soal siapa yang menjadi pembaca itu sendiri, yang butuh medium untuk dipelajari atau bahkan sekedar dinikmati ?

Pola pikir

Saya jujur saja bukan pembaca buku, bukan penikmat buku dan bahkan tidak begitu tertarik dengan buku yang isinya sudah ditulis orang lain. Saya lebih sering membeli buku kosong untuk saya isi dengan tulisan-tulisan dari apa yang saya pikirkan. Dan saya bukan penulis. Ya sebenarnya tidak hanya buku, bahkan medium seperti ini saya gunakan untuk kebutuhan yang sama, menulis. Bukan harus jadi penulis, tapi menjadi orang yang berpikir. 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya lebih sering membeli buku kosong baik polos maupun bergaris karena saya punya dua kebutuhan, menulis dan menggambar sketsa produk. Dan selama hidup saya sependek yang bisa saya ingat, saya hanya pernah membeli 3 buku dan baru salah satunya yang selesai saya baca, dan itu beberapa bulan yang lalu.

The Psychology of Money, Rich Dad Poor Dad, dan 7 Rahasia Investasi ala Warren Buffet yang saya sendiri lupa siapa saja nama penulisnya, selain Kiyosaki yang masih saya ingat betul nama khas Jepangnya. 

Dan kemarin saya sebenarnya ingin juga beli buku Madilog cuma karena penasaran saja apa yang disampaikan di buku tebal itu yang sebelumnya saya berpikir bahwa apa yang jadi gagasan Tan Malaka itu saya sudah ngerti konsepnya. Tapi karena saya pikir belum ada ruang untuk saya berdiam, saya tunda dulu pembelian buku tersebut. Kemudian juga Kumpulan Surat Kartini yang cukup menarik perhatian saya, hanya saja minatnya keburu hilang tertimpa minat lain yang memang lebih relevan terhadap situasi saya saat ini. 

Akhirnya, ya, baru satu buku yang selesai saya baca dan bukan itu point pentingnya, tapi apa yang saya dapatkan setelah selesai membaca bukunya ? Saya hampir lupa seluruh isi dari buku Psychology of Money yang saya baca. 

Karena bahkan apa yang terjadi saat saya membaca adalah melihat arah penalaran yang digunakan untuk membentuk premis tulisannya dari sisi penulis. Sehingga seringkali apa yang ada didalam sana tertimpa dengan pemetaan yang saya lakukan untuk memahami isi dari keseluruhan buku tersebut, dan yang saya masih ingat dari buku itu bahwa disana disebutkan bahwa uang sangat ditentukan oleh perilaku dari pemiliknya. 

Dan ini yang paling masih saya ingat dan bahkan mempengarhui cara nalar saya belakangan bahwa "Apa yang menurut kita masuk akal saat ini, bisa jadi sangat tidak masuk akal untuk kita di masa mendatang, bahkan apa yang masuk akal menurut kita belum tentu masuk akal untuk orang lain, dan begitu juga sebaliknya"

Dan satu kesan yang saya dapatkan dari ketika saya membaca buku tersebut adalah, cara menata kalimat di buku itu sangat tidak enak untuk dibaca dengan gaya bahasa Indonesia, semacam translasi yang masih sedikit mentah dari bahasa Inggris yang merupakan bahasa asli buku tersebut. Dan lagi, materi dan gaya nalar, cara berbahasa dan gaya penulisannya Amerika banget. 

Dan kenapa saya membaca buku tersebut atau mungkin lebih ke kenapa saya memilih untuk membeli buku tersebut diantara 3 buku lain dan memilih membacanya lebih dulu dari dua buku yang lain ? Apakah ini berkaitan dengan kebutuhan ?

Kebutuhan membaca

Kalau ditinjau dari ketiga buku yang saya beli, sebenarnya mereka punya benang merah yang sama, yaitu bagaimana kita melihat uang, menilai uang, memahaminya dan menatanya. Karena ketiga buku tersebut lebih mengarah ke bagaimana kita mengendalikan uang yang kita miliki, bukan untuk mendapatkannya. 

Dan kenapa saya membeli ketiga buku tersebut adalah karena memang saya butuh referensi terkait keuangan dari orang yang sudah mengalaminya dan berani menuliskannya dalam satu lingkungan tertutup berupa buku. Karena memang saya sedang ada di fase investasi keuangan. 

Jika saya tidak ada di ranah itu, sepertinya tidak cukup alasan untuk saya membeli bahkan satu buku soal itu. Dan itulah yang menjadikan juga alasan masuk akal saya membelinya adalah karena saya punya kebutuhan. 

Dan karena saya punya kebutuhan terkait investasi, maka saya mencari referensi tambahan terkait topik tersebut dan salah satunya dari buku, dan saya membacanya meskipun belum semuanya. 

Betul, tidak harus buku. Seperti yang sudah saya sampaikan diawal dan diatas barusan bahwa saya membutuhkan tambahan referensi, bukan sumber kebenaran mutlak dari seseorang melalui buku, dan itulah kenapa saya beli 3 buku dari orang yang bahkan saya lupa namanya, bukan satu buku dari orang yang sangat saya kenal sekali dia siapa dan saya mengidolakannya.   

Dan ada lebih banyak artikel yang saya baca dari jumlah buku yang saya beli.

Dengan kita mengenali kebutuhan, ada hal yang kemudian kita lakukan, dan salah satunya membaca. 

Dan membaca itu bisa dalam media apa saja. Dan masalahnya adalah bahwa ternyata darurat membaca di Indonesia bukan hanya terkait dengan buku. 

Nah kalau kita melebarkan masalah ini dan melepaskan BUKU dari sumber konteks dan menemukan fakta bahwa masyarakat Indonesia memang minim dalam minat membaca, maka kita menemukan masalah yang jauh lebih struktural terhadap system kehidupan yang terbentuk di Indonesia. 

Tentu ini berkaitan dengan kebutuhan tadi, dan masalahnya adalah bahwa system pendidikan kita tidak mengenalkan kita pada kebutuhan itu sendiri. 

Membaca Buku

Setelah kita mengenali kebutuhan dan mencari referensi untuk mengatasi masalah dalam kebutuhan tersebut, lantas perlukah kita membaca buku ? Saya rasa disini saya akan menjawab "tidak perlu".

Kenapa ?

Buku adalah hasil pikiran dari satu orang atau lebih yang dibangun diatas premis tertentu, dan disusun dalam materi-materi yang sudah dibakukan sesuai dengan isi kepala penulis dan diarahkan ke frame yang sedang dia bangun dalam kerangka pikirannya, dari awal sampai akhir secara tertutup. 

Semakin banyak kita membaca buku, maka akan ada semakin banyak framing orang lain yang masuk ke dalam pikiran kita. Dan semakin banyak framing orang lain di dalam pikiran kita, kita tidak punya ruang penuh untuk menciptakan framing kita sendiri alih-alih membuat kombinasi dari framing-framing yang sudah kita kenali. 

Dan itu bukan bentuk dari berpikir, melainkan menyusun. 
Karena kita terbiasa membaca buku yang sudah berdasar susunan kaku, maka otak kita terbiasa hidup dalam susunan yang kaku juga, sehingga akhirnya ketika kita mendapati abstraksi yang random, kita tidak bisa menerima itu dan akan mengembalikan semuanya ke susunan yang sudah kita tetapkan dalam otak kita. Dan dari situlah kemudian muncul kalimat-kalimat "Menurut si Anu di buku yang judulnya Nganu" dll. 

Kita kehilangan kemandirian berpikir dan hanya menjadi penguntit pikiran orang lain. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin hilang diri kita yang mandiri. Akhirnya apa ? bergantung antar buku ke buku, Jadi kutu buku. Dan itu lah memang yang sering terjadi.

Pendidikan

Ada sebenarnya begitu banyak kritikan yang bisa ditujukan langsung ke system pendidikan yang diberlakukan di Indonesia, dan itu saking banyaknya karena memang tidak ada juntrungan sama sekali yang dijadikan landasan bagaimana system itu terbentuk. Yang saya maksud pendidikan formal. 

Pendidikan formal yang diberlakukan di Indonesia ini seringkali dilandaskan pada penerapan nilai raport yang dimana hal itu berkaitan dengan cara pendidik menerapkan metode pengajarannya, yakni dengan menghafal, bukan dengan berpikir. 

Dengan menghafal, kita menjadi mengingat dan yang perlu dilakukan adalah mencocokan ingatan dengan soal yang ditanyakan untuk kemudian dikonversi menjadi nilai. Dan itu yang diperhitungkan. 

Dan standar itu juga yang digunakan di dunia kerja, sehingga kedua sektor itu baik pendidikan dan pekerjaan memang sinkron, tapi tidak menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan kehidupan. 

Itulah mengapa, bayaran kerja seringkali tidak mampu mencukupi kebutuhan. Karena memang dasarnya tidak dibangun untuk itu. 

Dan disini, mungkin kritik saya lebih menyangkut soal bagaimana system pendidikan kemudian harus disesuaikan dengan hasil akhir kenyataan yaitu bagaimana pada akhirnya kita harus berhadapan langsung dengan kebutuhan hidup. Untuk itu, yang perlu diajarkan adalah bagaimana mengenali kebutuhan, dengan apa ? Berpikir. 

Yang mana ini kembali lagi ke awal tulisan ini, yakni pola pikir. 

Coba sedikit kita renungkan masalah ini, dan ini hanya satu bagian kecil dari system pendidikan yang dijalankan selama ini di sektor formal dan bagaimana hal ini sangat tidak mengasah pola pikir. 

Dalam pelajaran sejarah misalnya, muncul pertanyaan "Dimana Kartini dilahirkan ?"

Pentingnya apa pertanyaan semacam itu dan apa yang bisa dilakukan siswa untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut ? Mengingat atau menghafal. 

Yang padahal dalam kehidupan sehari-hari kita, tidak ada satupun kebutuhan nyata yang berkaitan dengan dimana dilahirkannya Kartini

Seharusnya yang diajarkan di pelajaran sejarah bab Kartini adalah, mengenali masalah pada jaman itu dimana Monarki masih sangat tinggi dimana wanita adalah warga kelas dua dalam hirarki sosial, konteks sosial dimana Kartini adalah anak dari pejabat yang punya aturan ketat akan tatanan sosial, Ideologi Kartini dan masalah yang dihadapinya sebagai wanita di masa itu, dan sikap yang diambil Kartini untuk melancarkan misinya. 

Dari situ, kita dikenalkan dengan masalah dan bagaimana mengambil sikap dan mengatasi masalah itu. Bukan hanya dengan mengglorifikasi tokoh sejarah, mengetahui kapan dia lahir dan kapan matinya, tanpa pernah menyinggung konteks yang paling penting yang menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional. Yang kita tau cuma Kartini adalah pahlawan Emansipasi wanita. Lahir dimana, mati dimana. Sudah.

Pernah kita diberitahu isi dari surat-suratnya yang ada ratusan itu dan bagaimana isi pikiran Kartini waktu itu dan tantangan yang dihadapinya ? Tidak. Yang justru, semua itu adalah landasan yang harusnya diberitakan untuk membentuk pola pikir dan itu mengharuskan siswa untuk membaca lebih banyak. Bukan sekedar membaca yang perlu dihafalkan saja. 

Pelajaran yang lain gimana ? sama saja. Silahkan sebutkan contoh lain. 

Dan dengan system pendidikan seperti itu dan sudah berjalan puluhan tahun, kemudian muncul komplain atau keluhan bahwa "Indonesia darurat Membaca". 

Pernah tidak kita dididik untuk mengharuskan kita membaca ?